Selasa, 17 September 2013

Portal Ngadat Emosi pun Kumat



Tepat pukul 07.30 aku siaga di depan telepon genggamku. Ya, hari ini hari mengisi Kartu Rencana Studi (KRS). Meski jadwal untuk mengisinya adalah pukul 09.00, tapi aku sudah siaga. Aku tidak ingin mendapatkan kemungkinan terburuk, tidak kebagian Mata Kuliah Umum (MKU) misalnya, seperti semester sebelumnya.
HP-ku cukup bisa diandalkan untuk mengisi KRS. Meski hanya HP biasa saja (bukan android seperti kebanyakan mahasiswa), tapi masalah mengisi KRS performanya cukup bagus.
Namun beberapa menit sebelum pukul 09.00, tiba-tiba ketika membuka portal muncul tulisan your acces is time out di HP-ku. Aku pun mencoba untuk me-refresh-nya tapi tetap tidak bisa. Oh tidak, apa yang kutakutkan terjadi.
Sistem pengisian KRS sekarang memang berbeda dari tahun lalu—setiap tahun selalu berubah—tidak ada lagi pembagian jatah untuk masing-masing fakultas. Semua dibuka serentak. Semua fakultas mengisi pada hari yang sama, begitulah pengumuman yang tertulis di portal. Otomatis pengunjung portal akan membludak. Dan benar, portal semakin eror dibuatnya.
Tak puas dengan kinerja HP-ku, aku pun pergi ke warnet. Di warnet ternyata sama saja, tidak bisa. Meski begitu, aku tak putus asa. Dengan gigih aku membuka portal, meski selalu berakhir dengan kegagalan.
Setelah seratus kali mencoba (menurut hitungan kasarku), akhirnya bisa juga. Aku bisa mengambil mata kuliah jurusanku yang berjumlah 14 sks. “Saatnya untuk menambahkan MKU”, pikirku.
Tapi tiba-tiba muncul lagi pesan yang tidak diinginkan di KRS-ku. “Bukan saatnya isi atau revisi KRS” begitu tertulis di portal. Astaga, apa aku hanya akan kuliah 14 SKS? Haruskah menunggu revisi KRS dua bulan lagi? Oh tidak.
Kepalaku pun diselimuti rasa frustasi. Aku kesal, kecewa, dan lelah. Kenapa selalu begini?
Di tengah kekecewaanku, tiba-tiba asa kembali muncul. Sebuah status temanku di facebook menyadarkanku, ternyata jadwal untuk pengisian KRS di fakultasku dipindahkan. Ku cek lagi kevalidan informasinya di portal, memang benar. Masa pengisian KRS untuk FBS dan tiga fakultas lainnya diundur selama dua hari. Syukurlah masih ada harapan. Selamat berjuang dua hari lagi untuk MKU. Sastra

Perjuangan Menulis di Media Cetak


Sebulan yang lalu ada ribut-ribut di beranda facebookku. Ya, tulisan salah seorang temanku terbit di media masa. Wah, alangkah beruntungnya dia. Baru pertama kali megirim tulisan, langsung diterbiitkan. Sedangkan aku?
Sebenarnya aku juga berbahagia dengan keberhasilan temanku itu. Tapi di dada, hatiku serasa diris-iris. Aku sudah berulang kali mengirim karya tulisku ke media mulai dari cerpen, puisi, artikel, catatan kuliah dan tulisan lainnya. Namun apa daya, setahun aku mengirim tulisan-tulisan itu, belum juga ada yang terbit.
Aku semakin minder apabila ada teman yang membuka percakapan tentang menulis. Aku merasa berada di “kasta” terbawah dari teman-temanku itu. Ya, menulis memiliki tolak ukur sendiri terhadap kompetensi seorang mahasiswa dalam pergaulan di kampusku. Apalagi jika tulisan seseorang itu berulang kali dimuat media masa. Semakin tinggi rasa hormat orang lain padanya.
Aku pun merasa tidak layak diajak diskusi. Maka aku terpaksa hanya menjadi pendengar yang baik saja. Siapa tahu aku bisa mencuri ilmu dari mereka.
Gairah menulisku semakin loyo. Apalagi aku teringat ketika mendaftar pada sebuah organisasi surat kabar di kampus. Pada tes wawacara seorang kru bertanya tentang potensi yang aku miliki. Ku jawab saja, aku bisa menulis. Ketika ditanya lagi, apakah pernah tulisanku dimuat di media cetak, dengan kecewa ku jawab tidak.
“Jangan menyerah!” begitu kata kru padaku. Menurutnya seorang penulis itu harus kuat dan penuh semangat. Tidak pantang menyerah. Mungkin saja tulisan yang dibuat belum masuk kriteria atau mungkin juga belum waktunya dimuat. Yang penting tunjukkan kesungguhanmu untuk menulis. “Suatu saat tulisannmu pasti akan keluar,” tutupnya.
Mendengar nasehatnya aku kembali bersemangat untuk menulis. Mungkin saja tulisanku yang belum layak muat.
Hari demi hari kulalui dengan menulis. Selagi ada waktu kosong kuisi dengan menulis. Terserah mau tulisan apa, yang penting menulis. Meski belum juga dimuat aku tetap mengirim apa saja yang bisa kutulis. Dan benar saja sebagaimana pepatah Arab manjadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. Alhamdulillah akhirnya tulisanku dimuat juga. Sastra


Ringkasan, Cara Efektif Memahami Pelajaran



Kenapa harus meringkas? Apa gunanya membeli buku kalau ujung-ujungnya dicatat lagi?
 Mungkin kita sering mendengar kalimat sejenis itu dari orang-orang disekitar kita. Atau bahkan kita sendiri  mungkin pernah berpikir demikian. Pada saat kuliah, kita pasti pernah disuruh membeli sebuah buku oleh dosen. Setelah punya buku itu, disuruh lagi untuk meringkasnya. Pertanyaan-pertanyaan bernada kesal pun  mulai muncul dalam pikiran kita. Apa gunanya membeli buku kalau diringkas lagi? Kalau sudah punya buku, kan harusnya dibaca, bukan diringkas lagi.
Masalah sebenarnya ada pada Mahasiswa itu sendiri. Dari pengamatan saya, banyak mahasiswa yang malas membaca. Mungkin dosen sadar betul dengan kebiasaanmahasiswanya itu. Ketika perkuliahan berlangsung, banyak di antara mahasiswa yang hanya melongo dan tidak aktif karena tidak menguasai materi. Padahal mereka punya buku. Keadaan yang lebih memprihatinkan lagi buku mereka masih seperti baru dan bagus. Bukan karena pandai merawat, tapi karena tak pernah dibaca. Sungguh ironis bukan?
Jadi apa hubungannya malas membaca dengan meringkas? Tentu saja ada hubungannya. Ketika meringkas, secara tidak langsung kita telah disuruh membaca. Karena dalam tata cara meringkas yang benar, membaca adalah langkah pertama ketika ingin membuat ringkasan. Dengan demikian dosen memberikan tugas ringkasan untuk memastikan mahasiswanya membaca materi apa yang akan dipelajari. 
Namun kalau ada sebagian mahasiswa yang protes dengan opini ini bagaimana? Misalnya mereka selalu membaca dan mempelajari materi yang akan diajarkan. Apakah mereka harus meringkas juga? Sebaiknya iya. Memang kalau dilihat sepintas, meringkas buku seperti pekerjaan yang tidak efisien dan sia-sia. Cuma menghabiskan tenaga, waktu, buku dan tinta pena. Akan lebih efisien kalau difotokopi atau membeli buku saja kemudian dibaca. Tapi kalau dicermati lagi, maka kita akan menemukan esesensi dari meringkas itu. Banyak manfaat yang bisa didapatkan dalam proses membuat rigkasan.
Meringkas itu merupakan cara yang ampuh untuk memahami suatu materi. Pemahamankitaakan lebih dalam apabila menuliskan lagi apa yang telah dibaca. Salisbury (dalam Tarigan, 1985) mengatakan bahwa menulis (sesuatu yang dibaca) dengan tangan sendiri, akan membawa serta membuat kata-kata dan kalimat-kalimat secara lebih jelas pada ingatan kita dan mengawetkannya lebih baik dalam ingatan. Dapat disimpulkan bahwa meringkas akan membuat sesuatu yang dibaca itu lebih lengket dan lebih tahan lama di dalam otak daripada hanya membacanya saja.
Sebuah ringkasan yang baik dihasilkan melalui tiga tahap. Pertama yaitu membaca buku/karangan yang akan diringkas. Sebelum paham apa kesan umum buku dan maksud dari penulis, baca lagi buku tersebut berulang-ulang, sampai benar-benar paham. Dari tahap pertama ini dapat dilihat bahwa secara tidak langsung kita telah dituntut untuk membaca.Kedua yaitu mencatat gagasan utama. Semua gagasan utama yang terdapat dalam buku harus dicatat. Tujuannya agar ringkasan yang akan dibuat tidak lagi terikat dengan naskah asli. Dan yang ketiga, yang terakhir adalah mengadakan reproduksi. Reproduksi yaitu menulis ulang gagasan-gagasan yang telah ditulis tadi. Gagasan tersebut dirangkai menjadi suatu wacana yang jelas, logis, dan sekaligus menggambarkan isi dari karangan aslinya.
Berdasarkan prosedur meringkas di atas  banyak sekali manfaat yang bisa didapatkan. Meringkas bisa menambah pengetahuan melalui tahap membaca. Selanjutnya yaitu meningkatkan kemampuan membaca pemahaman  dengan mencari dan mencatat gagasan-gagasan utama karangan asli. Kemudian meringkas juga meningkatkan kemampuan menulis. Kegiatan mereproduksi akan melatih kemampuan kita untuk memilih dan merangkai kata dengan tepat dan sesuai.Dan manfaat yang tidak kalah penting yaitu meringkas akan mengawetkan ingatan kita terhadap apa yang telah  kitabaca.
Kesimpulannya manfaat membuat ringkasan itu terdapat pada prosesnya, bukan pada hasil tulisan yang diringkas. Suatu anggapan yang salah apabila seseorang hanya mencontek hasil ringkasan orang lain. Memang mencontek ringkasan orang lain akan terlihat lebih menguntungkan karena tidak memakan waktu yang lama dalam pembuatannya. Tapi sesungguhnya perbuatan yang demikiantidak efektif dan tidak akan memiliki manfaat apa-apa, selain kepenatan belaka.
Jadi, sudah tahu kan manfaat membuat ringkasan? Semoga ringkasan tidak lagi dijadikan musuh bebuyutan. Tapi jadikanlah tugas yang selalu “memaksa” kita untuk pintar dengan cara membaca. Karena membaca adalah jendela dunia.

Bahasa Daerah yang Terancam Punah

Anda mungkin pernah mendengar istilah “tanpa penutur bahasa binasa”. Kalau kita cermati sebenarnya istilah itu memang benar adanya. Sebuah bahasa akan mati jika tidak ada lagi yang menuturkannya. Sebagai contohnya yaitu bahasa Latin.
Bahasa Latin merupakan bahasa yang digunakan pada kekaisaran Romawi, karena Roma merupakan entitas politik paling kuat di dunia barat pada saat itu. Maka orang yang ingin maju harus menguasai bahasa Latin. Akibatnya bahasa ini menyebar dengan cepat dan menjadi bahasa utama pada saat itu.
Namun seiring dengan kemunduran Kekaisaran Romawi, bahasa ini makin tergerus. Di bekas daerah kekuasaan Romawi perlahan-lahan bahasa Latin berkembang menjadi dialek yang berbeda. Dialek ini semakin unik dan jauh dari bahasa induknya sehingga berkembang menjadi bahasa tersendiri. Bahasa-bahasa tersebut antara lain bahasa Spanyol, Portugis, Italia, dan Prancis. Bahasa Latin pun akhirnya ditinggalkan penuturnya yang lebih memilih menggunakan bahasa yang telah bertransformasi tersebut. Sehingga sekarang bahasa Latin hanya menjadi peninggalan sejarah belaka.
Bahasa latin hanyalah salah satu contoh bahasa yang “punah” karena tidak lagi memiliki penutur aslinya. Masih ada bahasa lain di muka bumi ini yang juga punah dimakan waktu. Alasannya sama, tidak ada lagi penuturnya. Hal inilah yang kita takutkan terjadi pada bahasa daerah, contohnya bahasa Minangkabau.
Bahasa Minang bukan lagi menjadi pilihan ketika berbahasa sehari-hari. Sebagian kalangan saja yang masih setia menggunakannya, biasanya mereka adalah masyarakat desa yang masih memegang teguh adat dan budayanya. Sedangkan kebanyakan keluarga pada masyarakat saat ini, yang sudah mulai bergaya kekota-kotaan, sudah enggan untuk berbahasa Minang, bahasa daerahnya sediri. Mereka merasa malu jika anak-anaknya menggunakan bahasa daerah karena dianggap kampungan. Orang tua lebih cendrung mengajarkan bahasa Indonesia kepada anaknya sedari kecil meskipun bahasa Indonesianya tidak benar. Sehingga anak tidak mampu untuk berbahasa daerahnya sendiri. Hal ini tentu akan mengurangi eksistensi bahasa Minang, karena akan mengurangi penutur bahasa Minang. Selain itu hal ini juga akan membuat anak tidak mengenal budayanya sendiri. Tidak hanya itu, dengan mengajarkan bahasa Indonesia secara tidak benar akan merusak bahasa Indonesia itu sendiri.
Masalah lain juga terjadi dengan muda-mudi saat ini. Pemuda Minang saat ini lebih cendrung menggunakan bahasa gaul yang sedang trend saat ini daripada bahasa daerahnya. Misalnya ciyus miapah, loe-gue, bokap-nyokap dan sejenisnya. Kalau ada yang berbahasa daerah maka akan dianggap kurang gaul dan akan tersisih dari pergaulan.
Posisi bahasa daerah pun semakin terpojok dengan adanya kebijakan pemerintah untuk mengurangi jam pelajaran bahasa daerah dengan menggabungkan ke dalam mata pelajaran kebudayaan di tingkat sekolah pada kurikulum 2013. Sedangkan dalam forum-forum pendidikan peserta didik juga diwajibkan untuk berbahasa Indonesia. Jadi kapan kesempatan untuk menuturkan bahasa kalau bukan dalam pergaulan sehari-hari?
Sebenarnya tidak ada salahnya menggunakan bahasa apapun di dalam kehidupan ini. Namun pemakaian suatu bahasa juga harus disesuaikan konteksnya. Harus disesuaikan dengan situasi dan kondisiya. Dalam situasi humor tidak ada salahnya menggunakan bahasa gaul (slang). Sedangkan untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari dengan anggota keluarga dan orang-orang disekitar kita gunakanlah bahasa daerah. Sedangkan untuk situasi-situasi formal misalnya, sekolah, kuliah, seminar atau berkomunikasi dengan orang dari daerah lain gunakanlah bahasa Indonesia. Bukankah lebih baik menempatkan sesuatu pada tempatnya?
Kita sebagai generasi penerus, seharusnya menjaga dan melestarikan bahasa dan budaya kita. Kalau tidak kita yang menuturkan bahasa daerah kita, siapa lagi? Coba bayangkan bagaimana keadaan bahasa Minang pada generasi setelah kita, pada generasi anak dan cucu kita, andai kita sendiri tidak menuturkannya. Kita tentu tidak mau bahasa daerah kita bernasib sama dengan bahasa Latin bukan? Sastra