Selasa, 17 September 2013

Ringkasan, Cara Efektif Memahami Pelajaran



Kenapa harus meringkas? Apa gunanya membeli buku kalau ujung-ujungnya dicatat lagi?
 Mungkin kita sering mendengar kalimat sejenis itu dari orang-orang disekitar kita. Atau bahkan kita sendiri  mungkin pernah berpikir demikian. Pada saat kuliah, kita pasti pernah disuruh membeli sebuah buku oleh dosen. Setelah punya buku itu, disuruh lagi untuk meringkasnya. Pertanyaan-pertanyaan bernada kesal pun  mulai muncul dalam pikiran kita. Apa gunanya membeli buku kalau diringkas lagi? Kalau sudah punya buku, kan harusnya dibaca, bukan diringkas lagi.
Masalah sebenarnya ada pada Mahasiswa itu sendiri. Dari pengamatan saya, banyak mahasiswa yang malas membaca. Mungkin dosen sadar betul dengan kebiasaanmahasiswanya itu. Ketika perkuliahan berlangsung, banyak di antara mahasiswa yang hanya melongo dan tidak aktif karena tidak menguasai materi. Padahal mereka punya buku. Keadaan yang lebih memprihatinkan lagi buku mereka masih seperti baru dan bagus. Bukan karena pandai merawat, tapi karena tak pernah dibaca. Sungguh ironis bukan?
Jadi apa hubungannya malas membaca dengan meringkas? Tentu saja ada hubungannya. Ketika meringkas, secara tidak langsung kita telah disuruh membaca. Karena dalam tata cara meringkas yang benar, membaca adalah langkah pertama ketika ingin membuat ringkasan. Dengan demikian dosen memberikan tugas ringkasan untuk memastikan mahasiswanya membaca materi apa yang akan dipelajari. 
Namun kalau ada sebagian mahasiswa yang protes dengan opini ini bagaimana? Misalnya mereka selalu membaca dan mempelajari materi yang akan diajarkan. Apakah mereka harus meringkas juga? Sebaiknya iya. Memang kalau dilihat sepintas, meringkas buku seperti pekerjaan yang tidak efisien dan sia-sia. Cuma menghabiskan tenaga, waktu, buku dan tinta pena. Akan lebih efisien kalau difotokopi atau membeli buku saja kemudian dibaca. Tapi kalau dicermati lagi, maka kita akan menemukan esesensi dari meringkas itu. Banyak manfaat yang bisa didapatkan dalam proses membuat rigkasan.
Meringkas itu merupakan cara yang ampuh untuk memahami suatu materi. Pemahamankitaakan lebih dalam apabila menuliskan lagi apa yang telah dibaca. Salisbury (dalam Tarigan, 1985) mengatakan bahwa menulis (sesuatu yang dibaca) dengan tangan sendiri, akan membawa serta membuat kata-kata dan kalimat-kalimat secara lebih jelas pada ingatan kita dan mengawetkannya lebih baik dalam ingatan. Dapat disimpulkan bahwa meringkas akan membuat sesuatu yang dibaca itu lebih lengket dan lebih tahan lama di dalam otak daripada hanya membacanya saja.
Sebuah ringkasan yang baik dihasilkan melalui tiga tahap. Pertama yaitu membaca buku/karangan yang akan diringkas. Sebelum paham apa kesan umum buku dan maksud dari penulis, baca lagi buku tersebut berulang-ulang, sampai benar-benar paham. Dari tahap pertama ini dapat dilihat bahwa secara tidak langsung kita telah dituntut untuk membaca.Kedua yaitu mencatat gagasan utama. Semua gagasan utama yang terdapat dalam buku harus dicatat. Tujuannya agar ringkasan yang akan dibuat tidak lagi terikat dengan naskah asli. Dan yang ketiga, yang terakhir adalah mengadakan reproduksi. Reproduksi yaitu menulis ulang gagasan-gagasan yang telah ditulis tadi. Gagasan tersebut dirangkai menjadi suatu wacana yang jelas, logis, dan sekaligus menggambarkan isi dari karangan aslinya.
Berdasarkan prosedur meringkas di atas  banyak sekali manfaat yang bisa didapatkan. Meringkas bisa menambah pengetahuan melalui tahap membaca. Selanjutnya yaitu meningkatkan kemampuan membaca pemahaman  dengan mencari dan mencatat gagasan-gagasan utama karangan asli. Kemudian meringkas juga meningkatkan kemampuan menulis. Kegiatan mereproduksi akan melatih kemampuan kita untuk memilih dan merangkai kata dengan tepat dan sesuai.Dan manfaat yang tidak kalah penting yaitu meringkas akan mengawetkan ingatan kita terhadap apa yang telah  kitabaca.
Kesimpulannya manfaat membuat ringkasan itu terdapat pada prosesnya, bukan pada hasil tulisan yang diringkas. Suatu anggapan yang salah apabila seseorang hanya mencontek hasil ringkasan orang lain. Memang mencontek ringkasan orang lain akan terlihat lebih menguntungkan karena tidak memakan waktu yang lama dalam pembuatannya. Tapi sesungguhnya perbuatan yang demikiantidak efektif dan tidak akan memiliki manfaat apa-apa, selain kepenatan belaka.
Jadi, sudah tahu kan manfaat membuat ringkasan? Semoga ringkasan tidak lagi dijadikan musuh bebuyutan. Tapi jadikanlah tugas yang selalu “memaksa” kita untuk pintar dengan cara membaca. Karena membaca adalah jendela dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar