Selasa, 17 September 2013

Bahasa Daerah yang Terancam Punah

Anda mungkin pernah mendengar istilah “tanpa penutur bahasa binasa”. Kalau kita cermati sebenarnya istilah itu memang benar adanya. Sebuah bahasa akan mati jika tidak ada lagi yang menuturkannya. Sebagai contohnya yaitu bahasa Latin.
Bahasa Latin merupakan bahasa yang digunakan pada kekaisaran Romawi, karena Roma merupakan entitas politik paling kuat di dunia barat pada saat itu. Maka orang yang ingin maju harus menguasai bahasa Latin. Akibatnya bahasa ini menyebar dengan cepat dan menjadi bahasa utama pada saat itu.
Namun seiring dengan kemunduran Kekaisaran Romawi, bahasa ini makin tergerus. Di bekas daerah kekuasaan Romawi perlahan-lahan bahasa Latin berkembang menjadi dialek yang berbeda. Dialek ini semakin unik dan jauh dari bahasa induknya sehingga berkembang menjadi bahasa tersendiri. Bahasa-bahasa tersebut antara lain bahasa Spanyol, Portugis, Italia, dan Prancis. Bahasa Latin pun akhirnya ditinggalkan penuturnya yang lebih memilih menggunakan bahasa yang telah bertransformasi tersebut. Sehingga sekarang bahasa Latin hanya menjadi peninggalan sejarah belaka.
Bahasa latin hanyalah salah satu contoh bahasa yang “punah” karena tidak lagi memiliki penutur aslinya. Masih ada bahasa lain di muka bumi ini yang juga punah dimakan waktu. Alasannya sama, tidak ada lagi penuturnya. Hal inilah yang kita takutkan terjadi pada bahasa daerah, contohnya bahasa Minangkabau.
Bahasa Minang bukan lagi menjadi pilihan ketika berbahasa sehari-hari. Sebagian kalangan saja yang masih setia menggunakannya, biasanya mereka adalah masyarakat desa yang masih memegang teguh adat dan budayanya. Sedangkan kebanyakan keluarga pada masyarakat saat ini, yang sudah mulai bergaya kekota-kotaan, sudah enggan untuk berbahasa Minang, bahasa daerahnya sediri. Mereka merasa malu jika anak-anaknya menggunakan bahasa daerah karena dianggap kampungan. Orang tua lebih cendrung mengajarkan bahasa Indonesia kepada anaknya sedari kecil meskipun bahasa Indonesianya tidak benar. Sehingga anak tidak mampu untuk berbahasa daerahnya sendiri. Hal ini tentu akan mengurangi eksistensi bahasa Minang, karena akan mengurangi penutur bahasa Minang. Selain itu hal ini juga akan membuat anak tidak mengenal budayanya sendiri. Tidak hanya itu, dengan mengajarkan bahasa Indonesia secara tidak benar akan merusak bahasa Indonesia itu sendiri.
Masalah lain juga terjadi dengan muda-mudi saat ini. Pemuda Minang saat ini lebih cendrung menggunakan bahasa gaul yang sedang trend saat ini daripada bahasa daerahnya. Misalnya ciyus miapah, loe-gue, bokap-nyokap dan sejenisnya. Kalau ada yang berbahasa daerah maka akan dianggap kurang gaul dan akan tersisih dari pergaulan.
Posisi bahasa daerah pun semakin terpojok dengan adanya kebijakan pemerintah untuk mengurangi jam pelajaran bahasa daerah dengan menggabungkan ke dalam mata pelajaran kebudayaan di tingkat sekolah pada kurikulum 2013. Sedangkan dalam forum-forum pendidikan peserta didik juga diwajibkan untuk berbahasa Indonesia. Jadi kapan kesempatan untuk menuturkan bahasa kalau bukan dalam pergaulan sehari-hari?
Sebenarnya tidak ada salahnya menggunakan bahasa apapun di dalam kehidupan ini. Namun pemakaian suatu bahasa juga harus disesuaikan konteksnya. Harus disesuaikan dengan situasi dan kondisiya. Dalam situasi humor tidak ada salahnya menggunakan bahasa gaul (slang). Sedangkan untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari dengan anggota keluarga dan orang-orang disekitar kita gunakanlah bahasa daerah. Sedangkan untuk situasi-situasi formal misalnya, sekolah, kuliah, seminar atau berkomunikasi dengan orang dari daerah lain gunakanlah bahasa Indonesia. Bukankah lebih baik menempatkan sesuatu pada tempatnya?
Kita sebagai generasi penerus, seharusnya menjaga dan melestarikan bahasa dan budaya kita. Kalau tidak kita yang menuturkan bahasa daerah kita, siapa lagi? Coba bayangkan bagaimana keadaan bahasa Minang pada generasi setelah kita, pada generasi anak dan cucu kita, andai kita sendiri tidak menuturkannya. Kita tentu tidak mau bahasa daerah kita bernasib sama dengan bahasa Latin bukan? Sastra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar